“Re-Distorsi Makna” yang Mencoba Menjadi Deviasi Baru Makna Problematis Pacaran

Sebelumnya penulis tegaskan bahwa penulis bukanlah aktivis maupun simpatisan dari gerakan Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). Penulis juga bukan merupakan salah satu pelaku atau anggota gerakan-gerakan yang mengatas namakan “hijrah”. Tetapi penulis hanya mendukung penuh setiap sisi positif dari gerakan-gerakan tersebut.

Hal-hal positif yang menjadi penting untuk perenungan kita sebagai seorang muslim harus diperhatikan. Jika kita melihat aktivitas dan seruan yang gerakan-gerakan tersebut cenderung semakin membuat kedekatan kita kepada Tuhan semakin meningkat, dan hal-hal yang seperti yang dicontohkan Rasulullah semakin kita pahami. Maka sangat naif apa yang merak usung tidak kita dukung sebagai sesama muslim.

Beberapa pemahaman yang cukup penting berkaitan dengan gerakan-gerakan positif tersebut ialah problematika tentang pacaran yang saat ini perlu untuk kita pahami bersama. Penulis bukan bermaksud mencoba membabi buta memvonis pacaran sebagai sebuah perilaku HARAM MUTLAK yang tidak boleh digunakan istilah tersebut dalam setiap kondisi.

Mengenai definisi pacaran yang memiliki kata dasar “pacar” seperti disebutkan dalam KBBI ialah “teman lawan jenis yg tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih”. Dan selanjutnya pacaran menjadi sebuah aktivitasnya. Dari definisi ini sesungguhnya kita tidak dapat langsung melakukan penyimpulan hukum tanpa ada penjelasan yang lebih lengkap. Jika kita gunakan definisi tersebut dapat melahirkan kemungkinan-kemungkinan muncul, hukum mulai dari wajib hingga haram.

Hukum wajib dapat dikategorikan kepada sepasang suami-istri dan dapat berhukum haram ketika terjadi dalam hubungan antara sepasang laki-laki dan perempuan tanpa hubungan pernikahan. Jika kemudian ada pernyataan yang menyebutkan bahwa kita diperintahkan untuk berlaku cinta dan kasih sayang kepada setiap orang bukan berarti melegalkan hubungan sepasang laki-laki dan perempuan tanpa hubungan pernikahan tersebut. Aktivitas cinta dan kasih sayang haruslah jelas bentuk perbuatanya, dan harus seimbang kepada setiap orang bukan hanya kepada satu objek saja yang kita praktikkan. Kepada orang tua sebagai orang yang paling berjasa, kemudian suami/isteri, guru, teman harus kita tunjukkan bentuk cinta dan kasih sayang kita tersebut dangan intensitas yang telah ditentukan.

Kemudian perlu kita ingat kembali, jika teman atau guru/murid kita kebetulan ada yang berlawanan jenis haruslah kita perhatikan interaksi dan bentuk cinta dan kasih sayangnya. Kita sebagai muslim ada ketentuan-ketentuan khusus yang perlu diperhatikan dalam hubungan dengan lawan jenis atau dalam istilah yang lain disebut sebagai ajnabi. Dalam interaksi dengan lawan jenis kita dilarang untuk melakukan persentuhan terkhusus ajnabi tersebut ialah seumuran dengan kita dan cenderung masih menimbulkan fitnah syahwat. Berbagai ulama telah sepakat bahwa interaksi dengan lawan jenis ialah dibatasi, tidak seenaknya dengan sendirinya kita melakukan persentuhan berupa berjabat tangan atau aktivitas-aktivitas lain yang sejenis.

Seperti yang telah disebutkan dalam hadits yang mahsyur bahwa: “Sungguh apabila kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan paku dari besi itu lebih baik baginya daripada harus menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabrani). Dalam hadits ini menegaskan mengenai pentingnya kita sebagai seorang muslim untuk menjaga dirinya dalam melakukan interaksi terhadap lawan jenis.

Kembali kepada permasalahan pacaran, jika ada pernyataan yang menyebutkan bahwa jika aktivitas pacaran dilakukan tanpa tindakan-tindakan seperti yang selama ini orang-orang bayangkan– misalnya berdua-an, saling bersentuhan, atau berciuman? Akankah tetap menghukumi pacaran haram? Jawabannya ialah tetap tidak dapat dibenarkan.

Mengapa demikian, karena memang aktivitas pacaran jika dilakuan dengan ajnabi maka telah masuk dalam bagian dari usaha menuju suatu yang diharamkan (zina). Melalui aktivitas tersebut telah banyak kejadian-kejadian yang diawali dengan “pacaran yang katanya sehat” kemudian datanglah bisikan setan yang membisikkan untuk melangsungkan perzinaan. Hal tersebut banyak terjadi dibelbagai lingkungan, terkhusus para pemuda yang sedang dimasa gejolak muda.

Jika kita merasa bersikap pertengahan atau washatiyah, pilihan berpacaran dengan ajnabi seperti yang disebutkan diatas dapat dikiasakan seseorang yang sedang bermain diatas gelombang air laut. Dimana ketika salah sedikit dalam melangkah nyawa kita menjadi pertaruhan atas gelombang yang kita mainkan. Kita seolah-olah membuka peluang hadirnya dosa kepada diri kita. Cukup naif jika kita memahami ancaman yang telah didengungkan oleh berbagai ulama, kita tetap mencari peluang-peluang tersebut.

Selanjutnya mari kita renungkan kembali mengenai tujuan penciptaan kita di dunia, yakni mencari bekal untuk kehidupan akhirat dengan ketentuan-ketentuan yang telah dijelaskan oleh para ulama kita. Kita akan sadari bahwa melakukan perbuatan-perbuatan yang cenderung merugikan dan tidak membawa manfaat sama sekali terhadap keakhiratan perlu dipertimbangkan kembali untuk dilakukan. Penggunaan kaidah ushul yang berbunyi “Al-aslu fil asya’i al-ibaahah, hatta yadullu dalilu ala tasrimihi” tidak serta merta kita jadikan dalil secara serampangan. Kita harus pahami matang-matang makna “asal sesuatu adalah boleh” tersebut. Kesimpulan yang sangat dangkal jika memutuskan hukum bahwa pacaran ialah “boleh karena tidak ada dalam ajaran Islam”. Seperti yang sebelumnya penulis uraikan, pacaran menyangut aktivitas interaksi dengan lawan jenis yang telah diatur dalam Islam sehingga hukum pacaran tidak tunggal.

Jadi hemat penulis cukuplah kita ikuti apa yang telah diajarkan oleh para ulama-ulama kita yang lebih memahami permasalah hukum. Menyalahkan orang yang sedang hijrah dan mendalil seperti para penceramah sampaikan mengenai hukum pacaran ialah perkara yang kurang bijak. Menyampaikan kesimpulan hukum yang prematur kemudian disampaikan ke publik jika yang disampaikannya tersebut cenderung berpeluang dosa juga akan menghadirkan dosa turunan dari para pembaca yang membenarkannya. Inilah pentingnya pemikiran yang sehat, dengan pemikiran yang sehat kita dapat menyampaikan pemikiran tersebut dan dapat berpeluang melahirkan pahala, begitupun sebaliknya. Jika kita merasa berat untuk meninggalkan suatu dosa, maka bukan berarti kita berusaha mencari pembenaran atas dosa yang sulit kita tinggalkan tersebut. Menurut penulis seseorang masih dianggap lebih baik jika ia masih mengakui dosa dan kesalahan yang ia perbuat, dibanding orang yang tidak merasa berdosa terhadap dosa yang jelas-jelas ia perbuat sesuai dengan ketentuan hukum yang ada. Yang penting tetap berusaha untuk meninggalkannya. Wallahu a’lam.

Satu tanggapan untuk ““Re-Distorsi Makna” yang Mencoba Menjadi Deviasi Baru Makna Problematis Pacaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s